Ketika pintamu belum dikabulkan, bukan berarti Allah SWT mengabaikan: memaknai konsep self acceptance dari QS. Al-Baqarah ayat 216

Di kehidupan yang penuh ketidakpastian ini. Ada sebuah zona yang diam-diam selalu ingin kita kuasai. Zona itu bernama ketetapan. 

Kita selalu ingin tahu lebih banyak bagaimana ujung perjalanan yang kita punya. Kita ingin memastikan bahwa apa yang kita pilih adalah keputusan terbaik. Tanpa sadar kadang muncul rasa ingin mengendalikan arus hidup sebagaimana yang diingin. 

Namun faktanya. Apa yang kita ketahui saat ini hanyalah potongan kecil dari seluruh kisah yang kita punya. Sebab hanya Sang Sutradara lah yang paling mengerti bagaimana skenario itu berjalan.

Sama halnya dengan manusia kebanyakan. Perasaan ingin mengendalikan itu pun aku miliki. Akibatnya aku sering tertatih tersebab ketidakmampuanku menerima kenyataan dengan hati lapang. Dalam situasi begitu. Ada satu ayat yang terasa menguatkan saat keadaan tampak tak berpihak. Ketika aku merasa apa yang kuingin masih belum terkabul. Saat aku meragukan kenyataan yang kuterima. Apakah ini takdir terbaik? Apa ini memang yang sepatutnya aku peroleh?

Ayat itu berbunyi:

 كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Aku selalu termenung dan membacanya berulang kali tiap kali sampai pada bagian: "Allah SWT tahu apa yang kamu nggak tahu". Membaca bagian ini selalu seperti ada perang dingin yang berkecamuk antara nalar dan hati. Ketika realitas tak berpihak tapi hati dituntun yakin kalau inilah yang terbaik menurut-Nya. Di titik ini rasa percayaku pada-Nya  seakan diuji. 

Namun semakin kuselami ayat ini, semakin kutemukan makna yang menundukkan keraguan dan membawaku pada pemahaman yang lebih dalam.

Melalui ayat ini Allah SWT seakan mengingatkan: Bahwa hidup tidak akan pernah bisa berada dalam genggaman kita sepenuhnya. Selalu ada ruang ketidakpastian yang sulit untuk kita terka dan mengerti. Supaya kita memahami posisi kita sebagai manusia yang hanya bisa merencanakan. Namun keputusan dan kendali tetap jadi ranah Tuhan. Jika demikian, apa artinya Allah SWT begitu otoriter? Justru ini adalah bentuk dari cinta Allah SWT kepada hamba-Nya. Ibarat seorang ibu yang menunda memberikan permen karena anaknya sedang sakit gigi. Bukan karena ibu tidak sayang. Tapi karena ia tahu jika penundaan itu justru menyelamatkan si anak dari risiko yang lebih besar.

"...Bisa jadi sesuatu yang kamu sukai itu buruk bagimu dan bisa jadi sesuatu yang tidak kamu sukai itu baik bagimu"

Ali Al Shabuni dalam Shafwat Al Tafasir menerangkan ayat ini bermakna, bahwa sesuatu yang tidak disukai belum tentu tidak baik. Sebaliknya, sesuatu yang disukai juga belum tentu baik pula. Dalam  Mafatih al-Ghaib, Fakhruddin Ar Razi juga menambahkan bahwa manusia menilai sesuatu berdasarkan dampak jangka pendek. Sedang Allah menilai berdasarkan konsekuensi jangka panjang. Jadi, baik menurut manusia seringkali hanya parsial, tidak menyeluruh.

Konsep ini pun ditangkap dengan begitu indah oleh Ibnu Athailah As Sakandari dalam kitabnya Al Hikam: "Bisa jadi Allah SWT memberimu suatu anugerah kemudian menghalangimu darinya; dan boleh jadi Allah SWT menghalangimu dari suatu anugerah kemudian memberimu anugerah yang lain. Ketika Allah SWT membukakan pintu pemahaman padamu tentang pencegahan-Nya dari suatu pemberian. Maka  penolakan Allah SWT itu justru menjadi anugerah yang sebenarnya."

Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin juga memaparkan: “Seringkali sesuatu yang diinginkan manusia menjadi sebab kebinasaan dirinya, dan sesuatu yang dibencinya menjadi sebab keselamatannya.”

Ketika Allah SWT mengambil kendali atas hal yang tak bisa  kita jangkau. Allah SWT sedang menjaga kita dari risiko yang mungkin saja akan menyengsarakan di kemudian hari. Diam-diam Allah SWT sedang membentuk kita menjadi lebih baik, barangkali sesuatu yang diharapkan itu belum mampu kita emban jika diberikan saat ini. Dan "sikap menerima" menjadi bentuk latihan dari Allah SWT kepada kita. Latihan untuk menahan gejolak yang ingin selalu mengendalikan. Latihan untuk memahami bahwa penundaan bukan selalu berarti penolakan. Latihan untuk menemukan alasan dari setiap jawaban yang tak sesuai permintaan. 

Sejatinya, hari-hari yang kita lalui adalah kumpulan skenario yang sudah Allah SWT rancang sedemikian rupa. Dia sudah sangat memperhitungkan dengan matang kebaikan-kebaikan yang layak kita terima. Mungkin memang timingnya bisa tak sama dengan apa yang kita rencanakan. Wujudnya pun juga bisa sangat berbeda dari apa yang kita sangkakan. Tapi bukan berarti keinginan yang tidak terwujud itu adalah bentuk  pengabaian-Nya. 

Karena lagi-lagi, keterbatasan kita tak akan mampu menjangkau pemahaman bahwa apa yang kita ingin tidak selamanya menjadi sesuatu yang kita butuh. Pun tidak semua yang tidak kita peroleh selalu bermakna kehilangan. Terkadang beberapa hal Allah SWT jauhkan guna menyelamatkan kita dari kepuasan sesaat dan menggantinya dengan kebahagiaan yang lebih utuh lagi bermakna.

"...Allah SWT Maha Tahu atas apa yang kamu tidak ketahui"

Di ujung firman-Nya Allah SWT meyakinkan. Bahwa apa yang kamu terima saat ini. Baik itu hasil dari munajat yang kamu panjatkan ataupun realitas yang tak sesuai keinginan. Semuanya adalah hasil  perhitungan Sang Maha Pasti lagi Teliti. Kelak di penghujung cerita kamu akan memahami bahwa Allah SWT menempatkanmu pada suatu keadaan bukan tanpa alasan. Ternyata saat kamu hanya meminta sekuntum bunga. Allah SWT tunda permintaan itu sebab Dia tengah mempersiapkan taman bunga yang lebih menawan dengan rupa bunga yang beragam. 

Imam Qushairi menafsirkan dengan elok dalam tafsir sufinya: "Lebih baik menerima kabar baik tentang jaminan kemudahan dari Sang Sejati daripada pikiran cemas dari diri (yang rendah) yang memperingatkan akan kesulitan dan bahaya yang akan datang."

Maka yang perlu kamu miliki saat ini hanyalah sikap menerima (self acceptance). Bukan sebatas menerima apa yang menurutmu baik. Tapi juga menerima apa yang tampak buruk dan kurang menyenangkan di matamu. Kamu menerima semua bagian cerita di hidupmu. Setiap jengkalnya, setiap sudutnya, senang susahnya, pedih bahagianya. Kamu tidak lagi berupaya keras mengontrol hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan. Kamu mulai percaya jika hidupmu akan dibimbing oleh yang Maha Hidup. Tak pernah lengah ataupun lalai pada urusanmu walau sekejap saja.

Keilmuan psikologi juga menjelaskan bahwa penerimaan diri (self acceptance) memungkinkan seseorang menerima realitas hidup tanpa memberi penolakan yang berlebihan. Carl Rogers dalam teorinya menungkapkan ini sebagai sikap penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard).  Penerimaan menurunkan rasa cemasmu pada ketidakpastian, penolakan, dan kenyataan yang tidak kamu sukai. Hatimu jadi lebih selaras dengan alur hidup yang sedang dijalani. Energi yang tadinya terkuras oleh penyangkalan beralih menjadi upaya untuk memahami. Kamu bersedia dengan lapang dada melanjutkan perjalananmu seapa-adanya.

Dengan begitu, hatimu akan dipenuhi prasangka baik. Jiwamu tenang karena tidak berupaya keras mengendalikan kenyataan. Kamu memilih berdamai dan pelan-pelan menemukan makna dari setiap peristiwa yang silih berganti mewarnai. 

Penerimaan diri (self acceptance) membuatmu lihai mengendalikan rasa gundah. Penerimaan diri menjadikanmu mahir melihat keadaan dengan sudut pandang yang luas. Penerimaan diri mengubah segala citra burukmu terhadap hidup dan menyuburkan rasa percayamu padanya. Kamu menjadi lebih hidup. Bukan sebatas menjalaninya, tapi terlibat penuh secara raga, emosi maupun hati. 

Agar semakin sempurna. Kita tutup renungan kali ini dengan perkataan dari Ibnu Athaillah As Sakandari yang satu ini:

أَرِحْ نــَفْسَـكَ مِنَ الـتَّدْبِــيْرِ، فَمَا قَامَ بِـهِ غَيْرُ كَ عَـنْكَ لاَ تَـقُمْ بِـهِ لِنَفْسِكَ
"Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengurus dunia. Apa  yang telah Allah SWT atur tidak perlu kau sibuk ikut campur"

Semoga kamu bahagia dengan ceritamu sendiri ya.

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/Gabriela Tavares/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Spirit Surat Al-Baqarah ayat 257 dalam meningkatkan sikap optimis terhadap hidup

AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?