Spirit Surat Al-Baqarah ayat 257 dalam meningkatkan sikap optimis terhadap hidup


Di dunia yang berputar begitu cepat. Acap kali rasa tertinggal dan kalah menghantui hari-hari. Kehidupan setiap orang tampak begitu mudah. Sedang kehidupan sendiri berjalan sebaliknya. Tanpa sadar perasaan ini perlahan menarik kita pada lubang kekhawatiran, kecemasan, putus asa, dan rendah diri. Tuhan tampak  tidak adil dalam menakar keberuntungan setiap hamba-Nya. Pelan-pelan rasa percaya pada kuasa Tuhan mulai memudar. Sedang diri semakin kuat mencoba mengendalikan urusan dunia yang sebenarnya sudah diberi takaran masing-masing oleh-Nya.

Jika kamu tengah berada dalam situasi ini. Izinkan aku menceritakan sebuah ayat yang begitu indah untuk kita renungi bersama.  Barangkali ayat ini sudah sering kamu ulang, tapi mungkin butuh waktu untuk benar-benar paham akan maksud tersembunyi yang ingin Tuhan sampaikan:

أَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ 

Allah ialah Pelindung  bagi orang-orang  beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah: 257)

Pada awal ayat Allah SWT sudah langsung memproklamirkan diri sebagai wali (pengatur, pengurus,  pelindung serta yang punya hak) atas hidup makhluk-Nya. Menurut Ibnu 'Ajibah (seorang ulama besar dan sufi asal Maroko) maksud dari kata  " وَلِيُّ " adalah Sang Pencinta yang mengurusi urusan kekasih-Nya, serta Sang Penolong yang membantu hidup kekasih-Nya.  Allah SWT lah satu-satunya Dzat yang paling mengerti manusia melebihi pemahaman mereka atas diri mereka sendiri. Pengakuan ini terasa begitu indah dan dekat. Jika ditelisik lebih  dalam tentu kita akan menemukan perasaan tenang dan jauh dari kegelisahan. Ternyata kita tidak mengarungi hidup ini sendirian, rupanya kita tidak pernah diabaikan.

Allah melanjutkan firman-Nya dengan يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ. See. Hanya Dia satu-satunya Dzat yang mampu mengangkat kita dari dasar paling terpuruk menuju padang penuh cahaya. Tiada satupun makhluk yang benar-benar bisa kita andalkan sepenuhnya: bukan teman, pasangan, keluarga, tidak pula harta dan ketenaran yang dimiliki. Menurut Imam Qusyairi, kalimat مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ adalah sebuah upaya transformasi dari keinginan untuk mengurus kehidupan duniawi yang sudah jelas-jelas di atur oleh Sang Wali, menuju kepasrahan total sebagai bentuk keyakinan bahwa Dia penentu terbaik atas hidup hamba-Nya. Sehingga segala urusan menjadi lebih terang dan jelas. Hati dan pikiran pun bebas dari belenggu kekhawatiran yang menjauhkan kita dari berharap dan yakin kepada-Nya. Sebab keraguan dan rasa was-was adalah bentuk upaya setan dalam mengekang hati kita dari cahaya optimis. Dan justru memutarbalikkan kehidupan kita menuju lembah gelap tanpa harapan.

Dalam ilmu psikologi, hal ini dikenal dengan cognitive restructuring yaitu sebuah konsep dalam Cognitive Behavioral Therapy yang menekankan bagaimana manusia bisa mengubah cara pandangnya terhadap realitas. Cognitive restructuring adalah sebuah teknik restrukturisasi kognitif dalam memfilter pikiran-pikiran negatif seperti perasaan tidak bermakna, melihat hidup tidak adil, atau perasaan diuji berlebihan oleh Tuhan, menuju pola pikir yang lebih optimis, penuh makna lagi terarah. Jika kita analogikan dengan ayat di atas. Bahwa kegelapan tidak selalu berarti keadaannya  yang suram, barangkali cara kita melihat keadaan itu sebenarnya yang kurang proporsional. 

Saat seseorang diselimuti kegelapan berpikir maka ia cenderung mengalami distorsi kognitif. Sebuah keadaan dimana pikiran yang ia alami tidak sepenuhnya benar tapi dia merasa itu sangat nyata. Sehingga kadang satu kesulitan digeneralisasi menjadi kemelaratan hidup sepenuhnya. Sikap generalisasi ini lah yang akhirnya menjadikan ia bergelimang dalam sikap putus asa tak berkesudahan. Di titik inilah konsep  مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ terasa begitu dalam dan bermakna. Bahwa untuk menjemput hidup yang bermakna bukan dengan perubahan nasib secara instan, tapi dimulai dari perubahan pola pikir. Dari cara pandang yang sempit menjadi lebih bijaksana, dari kecemasan yang tak berkesudahan menjadi keyakinan dan rasa percaya diri. 

Namun sebagai seorang muslim, transformasi ini tidak semestinya berhenti sebatas pada cara berpikir, namun juga harus berlanjut dengan kepasrahan hati sepenuhnya pada Dzat yang Maha Segala. Karena sejatinya kita hanyalah seorang hamba yang juga memiliki keterbatasan. Maka tidak mungkin segala persoalan mampu kita selesaikan sendiri. Dan rasa terhubung inilah yang akhirnya menjadi kunci ketenangan dalam menjalani hidup. Hati yang pasrah membuat kita percaya jika Allah SWT adalah Wali dan segala urusan sudah berada dalam dekapan-Nya. Maka kita tidak lagi takut dengan yang namanya "masalah". Bukan karena  hidup serta-merta sudah bebas dari masalah. Namun cara kita melihat masalah yang tak lagi sama. Sebab hati kita sudah terkoneksi penuh dengan pemilik kehidupan itu sendiri.

 

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/Meer Bahad/Sufi Whirling

Komentar

Postingan populer dari blog ini

AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

MELAMBAT SAAT DUNIA BERGERAK CEPAT

Menemukan hakikat cinta dari Sang Pencinta